Teguran Dr MS FORKOM ALIM’S
SPIRIT YANG HILANG
“SEMOGA DGN SEDIKIT NARASI DARI MS NI DPT MENYADARKAN KALIAN SEMUA TERUTAMA SAYA JUGA SICH DARI HAL YANG SELAMA NI MEMBUAT HATI QTA RAGU SEHINGGA LEBIH SEMANGAT LAGI DALAM MENEGAKKAN PANJI2 ISLAM, AMIIIN”
Kam minnaa laisa fiinaa
Ngaji kok seperti gak ngaji? Prihatin, bila ada aktor tarbiyah yang tidak lagi enjoy dalam tarbawi. Seperti ungkapan perintis tarbiyah “kam minnaa laisa fiinaa wa kam fiinaa laisa minnaa”. Betapa banyak orang yang memiliki karakter kami tetapi tidak berada di dalamnya, betapa banyak orang bersama kami namun tak memiliki karakter kami.
Bagaimana menjamin mutu kader agar asli, orisinil seperti zaman nabi? Dinamisasi dalam orisinalisasi. Dinamis membangun kemurnian kader berkarakter. Zaman boleh berubah, tapi integritas harus dijaga. Oleh para pionir dakwah (muassis), berbagai gebrakan, peristilahan, perubahan, pemikiran diluncurkan. Kewajiban menutup aurat ditegakkan hingga banyak akhwat jadi “korban”. Berbagai sunnah-sunnah dihidupkan: seperti walimah islami, aqiqah, i’tikaf, dan qiyamullail. Berbagai istilah seperti ana-antum, akhi-ukhti, tarbiyah, dauroh, manhaj, ikhwan-akhwat, istimrar, dan yang khas qiyadah wal jundiyah, menjadi popular di sana-sini..
Kini, sebagian perintis telah pergi, para pewaris jauh dari sumber yang asli…dan nilai-nilai tarbiyah serasa hambar tak bergizi. Menu bacaannya bukan lagi Tafsir fii Zhilal, Siroh Nabawiyah karya Al-Buthi, Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq, atau trilogi Ushul ats-Tsalasah (al-Islam, Allah, ar-Rosul) karya Sa’id Hawa, tapi para aktivis dakwah lebih enjoy melahap kidung-kidung cinta, membahas cara berpolitik, maupun cara untuk kaya.
‘Sarjana’ banyak masalah
Hidup bak sekolah. Ada yang lulus cum laude ada yang kemelut. Ada pelopor, banyak pula provokator. Ada aktivis banyak pasivis. Dakwah bak sekolah, banyak masalah. Ada ujian, ada semesteran, ada yang lulus, ada pula yang drop out. Ujian kadang bukan karena beratnya beban, himpitan kemiskinan dan kerasnya ancaman, justru godaan rayuan yang sering mematikan.
Tarbiyah untuk membentuk kader yang mampu jadi problem solverbukan sekedar problem speaker apalagi jadi problem maker. Na’udzubillah bila kader jadi makelar masalah, sibuk meng-organize qodhoya jadiproblem trader.
Bagaimana denganmu akhi wa ukhti? Kemudahan fasilitas jangan sampai membuat kader jadi keder, berceceran di jalan dakwah, minggir di tempat hiburan, menghindar dari amar, menyingkir kalau diajak mikir, dan banyak mengeluh kalau dimobilisasi dengan sungguh-sungguh. Mulai berjatuhan di tengah jalan, bergelar veteran yang tak sedap. Mau tahu? Mari kita simak! MM: Mantan Murobbi, Mantan Mutarobbi. MT: Mantan Tarbiyah. MA: Mantan Aktivis. M.Pd: Mantan Pegiat Dakwah. MBA:Murobbi Banyak Alasan, Mutarobbi Banyak Alasan.
Ngaji tidak enjoy lagi?
Ngaji nggak enjoy, tarbiyah kok nggak happy? Ok. Stop, jangan saling menyalahkan. Padahal halaqoh itulah taman surga di dunia.
Rasulullah saw bersabda: “Apabila kamu melewati taman-taman surga, berlabuhlah di sana.” Ada sahabat yang bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Majelis-majelis ilmu.” (HR. Thabrani)
Nah, aneh ‘kan bila di surga nggak bahagia? Ngaji kok enggakenjoy. Barangkali murobbi kurang empati. Miskin senyum, padahal itu sedekah paling murah. Halaqoh kering dan gersang. Atau sedingin kuburan? Mengerikan. Atau mutarobbi terlalu “materialistis”, terlalu menuntut materi tarbawi. Merasa nggak ngaji bila belum dapat materi. Di sini murobbi maupun mutarobbi mesti kreatif menghadirkan suasanahappy. Introspeksi. Agar para murobbi lebih care dan mutarobbi tahu diri.
Dakwah dianggap beban berat?
Kok serius banget? Fresh sajalah. Begini, mari kita buka cakrawala baru bahwa dakwah jangan dianggap beban agar langkah sumringah. Lihatlah sebagai tantangan mengasyikkan untuk mendapat bidadari pilihan. Iya ‘kan? Lihatlah wajah cerah perindu hidayah. Saksikan senyum merekah mereka yang tergugah. Berbahagialah karena bisa memasukkan kegembiraan kepada orang beriman dengan surga sebagai balasan. Dalam buku Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga karya Fakhruddin, Lc, disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa memasukkan kegembiraan kepada satu keluarga Muslim, Allah tidak akan ridha untuknya balasan yang lebih rendah dari surga.”(HR. Thabrani)
Awal dakwah memang berat, but endingnya nikmat. Sulit, justru itu yang bikin melejit. Mau melangkah susah, justru di situ full barokah. Repot di dunia tak apa asal di akhirat selamat. Iya ‘kan?
Dakwah adalah panggilan hati, aktivitas yang dicari. Bahagia rasanya bila bisa memelopori kebaikan, menginspirasi yang patah hati, membimbing yang tersesat dan menunjuki yang bingung. Semangat memberi yang menyalakan nyali untuk terus berbenah diri. Sebab “Bagaimanapun juga, seorang pendidik harus mempunyai tempat yang lebih mulia dan tinggi pada diri setiap orang yang dididiknya, sehingga segala yang diinginkan oleh pendidik mendapat tanggapan yang istimewa dalam diri mereka dan mereka pun malu untuk melanggar batas-batas penghormatan ini,” kata Sayyid Quthb.
Mari menjadi pribadi unggul: MBA (Murobbi Banyak Akal, Murobbi Banyak Aktivitas), S.Pd (Sosok Penuh Dedikasi), S.Si (Senantias Sebarkan Ilmu), M.Sc (Murobbi Sukses dan Cekatan), MH (Murobbi Huebat), dan Ph.D (Pakar Halaqoh dan Dauroh).
Please deh, jangan jadi kader muallaf!
“Barangsiapa bersantai-santai saat bekerja, maka ia akan menyesal saat pembagian upah (Abdullah Azzam)
Kader muallaf? Masak sih? Nggak masalah, asal segera berbenah. Khalid yang baru saja masuk Islam segera memimpin perang dan menang. Umar bin Khattab masuk Islam langsung berjuang. Hidayah bagi Hamzah menjadi ‘izzah bagi dakwah. Bagaimana denganmu? Sudah berapa lama engkau menjadi Muslim? Berapa lama ikut tarbiyah? Nah!?
Memang, ada kader muallaf yang perlu diurus. Bukan baru masuk Islam atau baru ngaji, bukan! But, stok lama yang tak segera meng-upgrade diri. Sayang. Tilawah tak menggugah. Bacaan tak bertambah. Wajah kuyu tanpa gairah. Namun, kalau bicara nikah sangat bergairah tapi bicara dakwah ia ogah. Yah, begitulah.
Maaf, dengan istilah kader muallaf. Ini terinspirasi oleh kondisi kader stok lama yang tak banyak berubah. Manusia banget, mulai luntur idealismenya. Ia bukan orang baru namun seperti baru karena telat melulu. Lama tarbiyah namun maisyah dan “Aisyah” bermasalah.. Ringkih ruhiyah plus miskin rupiah. Hati gundah, jiwa resah, pikiran gelisah, makan tak enak tidur tak nyenyak, planning amburadul, skripsi terbengkalai tak dapat judul, masalah terus muncul jedhal-jedhul tanpa skedul, bikin kepala makin gundul.
Ujian datang di titik terlemah
“Allah ta’ala akan senantiasa menguji antum pada titik terlemah antum. Orang yang lemah dalam masalah uang, namun kuat dalam masalah jabatan dan wanita, tidak diuji dengan wanita dan jabatan. Orang yang senantiasa mudah tersinggung dan pemarah, maka akan diuji oleh Allah dengan dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa membuatnya tersinggung dan marah. Sampai ia berhasil memperbaiki kelemahannya itu dan tidak lagi mudah tersinggung dan marah. Seorang yang senantiasa berlambat-lambat dalam dakwah karena alasan ‘istri, mertua, tamu’ akan senantiasa dihadapkan dengan alasan-alasan itu, ‘mertua datang, tamu datang silih berganti’ yang akan terus menundanya untuk bersegera menghadiri liqoat dakwah, sampai ia bisa mengutamakan agenda dakwah.” (KH. Rahmat Abdullah, Episode Cinta Sang Murabbi)
Deteksi dini dan hati-hati. Lemah soal harta? Jangan bergelimang kemewahan. Mudah tergoda perempuan? Jaga hati, seleksi tontonan dan tundukkan pandangan. Tak kuat jadi pejabat? Jangan terlalu merapat agar nggak terciprat syahwat dan syubhat.
Ujian itu pasti. Masalah sudah niscaya. Segarkan diri, cek kondisi, barangkali ibadah tak lagi bergairah. Shalat tak terasa nikmat. Tilawah tak semvuhkan ruhiyah. Fudhail bin ‘Iyadh menasihatkan, “Bila engkau sulit untuk bangun di malam hari dan sulit berpuasa sunnah di siang harinya, ketahuilah engkau tengah terbelenggu oleh dosa-dosamu.”
Pengangguran di jalan dakwah?
Pengangguran di jalan dakwah? Syafi’I, kecil-kecil jadi mufti dan imam besar! Kita? Jadi makmum, atau malah nganggur di rumah ga berjamaah? Ingat. “Pasukan yang tidak punya tugas, potensial membuat kericuhan.” Karena ada energi tapi tak disalurkan, punya ilmu tak ditularkan, kaya harta tak dimanfaatkan, ada kesempatan namun tak digunakan, punya keahlian tak diterapkan, relasi tak dihubungi, dan berbagai fasilitas tak disyukuri. Seperti anak kecil yang tidak tertangani dengan baik sangat potensial untuk nakal.
Saudaraku, syukurilah anugerah dakwah dan tarbiyah dengan cerdas menggunakan fasilitas agar kesempatan emas itu tak hilang tanpa bekas. Pengangguran adalah pintu kemungkaran. Menurut Ibnu Taimiyah,“Kadangkala siksaan datang dari Allah dan kadangkala melalui tangan manusia. Apabila manusia meninggalkan jihad fi sabilillah, maka bisa jadi Allah akan menguji manusia dengan menimpakan permusuhan sesama mereka sehingga terjadilah kekacauan di tengah kehidupan mereka sebagaimana kenyataan yang sering kita lihat. Sebenarnya bila umat telah sibuk berjihad fi sabilillah, maka Allah akan mempersatukan hati mereka dan menjadikan potensi kekerasan yang ada pada mereka terarah pada musuh mereka dan musuh Allah. Akan tetapi, jika mereka tidak mau berjuang di jalan Allah, maka Allah akan mengazab mereka dengan cara membuat mereka berpecah belah sehingga mereka saling bermusuhan.” (Muhammad Ahmad as-Rasyid, Hambatan-hambatan Dakwah).
Pengangguran adalah penyakit dan kesibukan itulah obatnya. Seperti air yang diam menghanyutkan, menenggelamkan, mematikan, menjadi sarang nyamuk, membusuk, memburuk dan menimbulkan banyak penyakit. “Siapa pun orangnya, selama dia menganggur di rumahnya, dia tidak akan pernah terlepas dari kemungkaran,” kata Imam Al-Ghazali.
Milikilah jiwa besar. Batu yang tersusun jadi pagar. Bambu berserakan bisa dirangkai jadi sanggar. Kayu dibentuk jadi kamar. Huruf tersusun jadi kata. Kata dirangkai jadi kalimat. Kalimat dikemas jadi paragraf. Paragraf diformat lengkap jadi judul, jadi buku, dan karya besar. Begitu pula potensi umat ini dibimbing untuk menjadi Muslim yang benar, dididik menjadi mukmin, dibina menjadi kader melalui tarbiyah hingga bisa digerakkan menjadi hizbullah. Allahu Akbar!
Gugah untuk berbenah!
Tak ada Islam tanpa kaum Muslimin,
Tak ada iman tanpa orang-orang mukmin
Kebesaran dimulai dari cara kita memandang masalah. Melihat secara proporsional. Menyikapi tanpa emosional. Bertindak secara profesional. Kita berlimpah energi saat orang lain mencari. Mengantongi buku tabungan akhirat dengan PIN syahadat kita. Punya kapling surga dengan rekening iman kita.
Masalahnya, saat orang lain merayap dalam gelap, kita malah terlelap bermandi cahaya. Al-qur’an di lemari kita, kitab hadits di rak buku kita, pengajian terselenggara di mana-mana, mengapa kemajuan tidak signifikan? Mengapa?
Mulailah berpikir untuk memberi. Berhenti untuk menuntut. Bismillah, saya melakukan yang bisa dan harus saya lakukan. Berdakwah, menulis, mentraining, menginspirasi, dan membentuk kader. Kuncinya pada kemauan untuk melakukan. Di antara sekian jenis kemiskinan, kata sang murobbi, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan ‘azzam, tekad dan bukannya kemiskinan harta. Seorang ulama salaf ketika ditanya, “Apa yang bisa melunturkan tekad?” Beliau menjawab, “Angan-angan yang panjang dan cinta kehidupan yang rileks.”
(‘Izzudin, Solikhin Abu. 2009. New Quantum Tarbiyah. Yogyakarta: Pro-U Media)
-ZAA-
No comments yet.

